Lintas Nusa

Media Lintas Informasi Antar Nusa

Metropolitan Pendidikan

Yon: Dosen Merupakan Profesi Mulia

Lintasnusa.com-Jakarta – Menjalani profesi sebagai dosen memiliki kepuasan dan kebanggaan tersendiri karena bisa memberikan ilmu dan pengetahuan yang sangat berguna bagi masyarakat. Peran dosen bagi lingkungan akademis maupun masyarakat umum dianggap sangat mulia karena mengajak atau mengajarkan kebaikan dan mencegah hal hal yang buruk dalam konteks duniawi maupun akhirat. Hal ini dirasakan Yon A.E., S.Pd, M.Pd, dosen Bahasa Inggris di Universitas Panca Sakti yang juga menjabat sebagai Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Panca Sakti.

Dosen merupakan profesi mulia
Dosen merupakan profesi mulia

Saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/9/2020), Yon mengungkapkan bahwa perjalanan karirnya di dunia pendidikan dimulai sejak tahun 2001, sedangkan mengajar di Universitas Panca Sakti Bekasi sejak tahun 2009. Selain menjadi dosen, pria yang kini tengah melanjutkan S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) juga melakoni pekerjaan sebagai Editor pada jurnal Dialectical Literature and Educational Journal (DLEJ) prodi B. Inggris di Universitas Panca Sakti dan juga mengajar di beberapa perguruan tinggi seperti STIKES, dll.

“Profesi dosen ini adalah profesi yang sangat mulia. Walaupun dari sisi pendapatan masih tergolong kecil namun saya tidak melihat hal itu sebagai hambatan, tetapi karena tugas mulianya yang sangat berguna bagi masyarakat luas,” ujar pria peraih Beasiswa BPDN S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan telah Lulus Setifikasi Dosen (Serdos). Sebagai seorang dosen, pria yang berasal dari Minang ini juga memiliki jiwa enterpreneurship, terbukti dengan bisnis atau usaha dagang (UD) yang digelutinya saat ini.

Dosen memiliki tiga tugas utama, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat (Tridharma Perguruan Tinggi). Perkuliahan mencakup perkuliahan didalam kelas, penelitian mencakup riset yang dilaksanakan dan dikembangkan dan pegabdian masyarakat yang berfokus pada aksi nyata transfer ilmu pengetahuan, keahlian dan teknologi kepada masyarakat.

Saat ini sudah saatnya para pendidik di perguruan tinggi (dosen profesional) agar mampu meredefinisi konteks pengajaran menjadi lebih luas dan mampu menjangkau tidak hanya hard skills (kemampuan akademis) namun juga soft skills ( sikap) para mahasiswa.

Kita berharap agar empat pilar pendidikan seperti yang didefinisikan UNESCO (Learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together in peace) dapat tercapai. Tetapi untuk mencapai Tujuan Pendidikan Nasinal, tidak cukup dengan empat pilar tersebut, maka dalam pendidikan di Indonesia ditambah dengan dengan pilar pendidikan “Belajar untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia”.

Selama meniti karir sebagai seorang dosen, lanjutnya, kendala yang dihadapi tentu banyak sekali, tetapi itu tidak menjadi halangan untuk terus menjalankan profesi sebagai seorang pendidik. Semua itu dihadapinya dengan sabar dan dengan tetap mengedepankan tanggung jawab dan profesionalisme sebagai seorang dosen.

Selama Covid-19 ini misalnya, Ia terkadang merasakan sedikit kesulitan dalam menyampaikan materi perkuliahan secara online karena adanya beberapa kendala seperti jaringan yang kurang memadai dan beberapa masalah lain. Kuliah daring memang kondisinya berbeda dibandingkan perkuliahan tatap muka. Menurutnya, kuliah secara online itu esensinya tidak semaksimal kalau perkuliahan itu dilakukan secara langsung atau tatap muka. Dia berharap pandemi Covid 19 ini segera berakhir dan masyarakat bisa beraktivitas dengan normal lagi seperti semula.

“Saya berharap pendidikan kita kedepan bisa lebih baik lagi dan kalau bisa menyamai pendidikan di negara negara maju. Solusinya, perlu adanya kebijakan yang tepat dari pemangku kepentingan, ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya proses pembelajaran, peningkatan kompetensi dosen dan seterusnya. Khusus bagi PTS perlu adanya keseriusan dan kesungguhan dari pihak yayasan untuk mendukung proses perbaikan tersebut. Misalnya dengan melengkapi sarana dan prasarana, memperhatikan kesejahteraan dosen, mendorong dosen untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi dan seterusnya,” pungkas pria pemilik filosofi tuntutlah ilmu setinggi mungkin karena pembelajaran itu harus berlangsung seumur hidup (long life education). (Amrul)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *