Tragedi Tanah Longsor di Tasikmalaya: Satu Korban Jiwa Tertimbun Material Longsor

Berita, Jabar503 Dilihat

Tasikmalaya–lintasnusa.com–Peristiwa tragis terjadi di Kampung Cienggang, Desa Kudadepa, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, pada Minggu (27/1/2025). Sebuah tanah longsor melanda daerah tersebut, menelan korban jiwa seorang warga bernama Nana (69).

Korban dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun material longsor yang terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Menurut keterangan warga, longsor terjadi secara tiba-tiba saat korban sedang berada di sekitar lokasi kejadian. Upaya penyelamatan dilakukan oleh warga setempat dan tim gabungan, namun korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Penyebab Longsor

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hujan deras yang terus-menerus selama beberapa hari menjadi penyebab utama pergerakan tanah di wilayah Kampung Cienggang. Struktur tanah yang labil dan berada di kawasan perbukitan turut memperparah risiko longsor di area tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan rawan longsor untuk tetap waspada, terutama saat musim hujan. “Kami terus melakukan monitoring di wilayah-wilayah yang berpotensi longsor dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat agar segera mengungsi jika ada tanda-tanda longsor,” ujar kepala BPBD.

Langkah Tanggap Darurat

Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi serta memastikan keselamatan warga lainnya. Selain itu, tim tanggap bencana juga mendistribusikan bantuan darurat berupa logistik, peralatan evakuasi, dan kebutuhan pokok bagi warga yang terdampak.

Untuk mencegah kejadian serupa, pemerintah daerah bersama BPBD akan meningkatkan langkah mitigasi, termasuk penghijauan di kawasan rawan longsor dan pembangunan sistem drainase yang lebih baik.

Seruan Kepada Masyarakat

Warga yang tinggal di daerah rawan longsor diimbau untuk selalu waspada dan memperhatikan tanda-tanda seperti retakan tanah, perubahan aliran air, serta suara gemuruh dari bawah tanah. Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, segera laporkan kepada pihak berwenang agar tindakan pencegahan dapat segera dilakukan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya mitigasi bencana alam serta kewaspadaan, khususnya di wilayah dengan risiko tinggi seperti Tasikmalaya. Semoga kejadian serupa tidak terulang, dan korban jiwa dapat diminimalkan melalui langkah-langkah antisipasi yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *