BNN RI Ubah Petani Ganja Menjadi Petani Kopi Lewat Program GDAD, Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Berita43 Dilihat

Jakarta, Lintasnusa.com – Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) terus memperkuat strategi pemberantasan narkotika melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Selain mengedepankan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana narkotika, BNN juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat untuk memutus akar persoalan sosial dan ekonomi yang selama ini menjadi penyebab sebagian warga terlibat dalam budidaya tanaman ganja.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Strategi tersebut diwujudkan melalui Grand Design Alternative Development (GDAD), sebuah program pembangunan alternatif yang bertujuan mengubah mata pencaharian masyarakat dari aktivitas ilegal menuju sektor ekonomi produktif dan berkelanjutan.

Baca Juga : FIFA Buka Investigasi Disipliner atas Insiden Pascafinal Piala Dunia 2026

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/7/2026).

BNN Fokus Putus Mata Rantai Narkoba dari Hulu

Dalam pidatonya, Komjen Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa perang melawan narkotika tidak cukup dilakukan melalui operasi penindakan semata. Menurutnya, penyelesaian persoalan narkoba harus dimulai dari akar masalah, yakni kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rentan terlibat dalam aktivitas ilegal.

“Pada bidang pemberdayaan masyarakat, BNN juga terus bekerja untuk memutus akar sosial ekonomi yang membuat sebagian masyarakat berada dalam lingkaran kerawanan narkotika,” ujar Suyudi.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari strategi nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Menurutnya, apabila masyarakat memiliki sumber penghasilan yang legal, layak, dan menguntungkan, maka ketergantungan terhadap tanaman ilegal seperti ganja akan semakin berkurang.

Program GDAD Ubah Petani Ganja Menjadi Petani Kopi

Program Grand Design Alternative Development (GDAD) merupakan salah satu langkah nyata yang telah dijalankan BNN sejak masa kepemimpinan Kepala BNN sebelumnya, Komjen Pol. (Purn.) Budi Waseso.

Program tersebut kini terus dilanjutkan oleh BNN RI sebagai bagian dari upaya menciptakan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya di wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan budidaya ganja.

“Di wilayah rawan kultivasi ganja seperti Gayo Lues, Aceh, kami melaksanakan kegiatan GDAD. Ini di zaman Pak Buwas juga, kita lanjutkan hari ini,” kata Suyudi.

Melalui GDAD, masyarakat didorong beralih dari menanam tanaman yang melanggar hukum menjadi mengembangkan komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta dapat dipasarkan secara legal.

Baca Juga : DPR RI Tetapkan Penggantian Antarwaktu Anggota Ombudsman RI

Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah kopi, mengingat kawasan Gayo selama ini telah dikenal sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas dunia.

Pendekatan Tidak Berhenti pada Pemusnahan Tanaman Ganja

BNN menegaskan bahwa strategi pemberantasan narkotika saat ini tidak hanya berorientasi pada pemusnahan ladang ganja.

Lebih dari itu, pemerintah ingin memastikan masyarakat memiliki alternatif penghasilan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Menurut Kepala BNN RI, pendekatan tersebut jauh lebih efektif dalam jangka panjang karena mampu memutus mata rantai ekonomi yang selama ini menopang aktivitas ilegal.

“Pendekatan kami tidak berhenti pada pemusnahan tanaman ganja, tetapi dilanjutkan dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan komoditas lain yang legal dan produktif,” ujarnya.

Model pembangunan seperti ini dinilai mampu menciptakan perubahan yang lebih permanen dibandingkan sekadar melakukan operasi pemusnahan tanaman.

Program Sempat Terhambat Akibat Bencana

Dalam kesempatan tersebut, Suyudi juga mengungkapkan bahwa implementasi Program GDAD di wilayah Sumatera sempat mengalami hambatan akibat bencana banjir besar yang melanda daerah tersebut.

Bencana tersebut menyebabkan sebagian kegiatan pemberdayaan masyarakat harus dihentikan sementara.

Namun demikian, BNN memastikan program tersebut kini kembali berjalan seiring proses pemulihan yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah daerah.

“Kini masyarakat sedang membangun kembali GDAD,” ujar Suyudi.

Hal ini menunjukkan komitmen BNN untuk tetap melanjutkan pembangunan ekonomi masyarakat meskipun menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Kopi Menjadi Komoditas Bernilai Tinggi

Pemilihan kopi sebagai komoditas pengganti bukan tanpa alasan.

Aceh, khususnya kawasan Gayo Lues dan sekitarnya, merupakan salah satu daerah penghasil kopi arabika terbaik di Indonesia yang telah dikenal hingga pasar internasional.

Dengan beralih menjadi petani kopi, masyarakat memperoleh peluang ekonomi yang lebih stabil karena produk tersebut memiliki permintaan pasar yang tinggi.

Selain memberikan pendapatan bagi petani, sektor kopi juga membuka lapangan kerja baru mulai dari proses budidaya, pengolahan, distribusi hingga ekspor.

Program ini sekaligus memperkuat pembangunan ekonomi daerah melalui peningkatan aktivitas usaha masyarakat.

Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

BNN RI menilai keberhasilan GDAD tidak hanya diukur dari berkurangnya tanaman ganja ilegal, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Menurut Suyudi, perubahan tersebut bahkan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Melalui program GDAD, BNN telah berhasil mengubah mindset masyarakat dari petani ganja menjadi petani kopi yang hasilnya punya nilai ekonomis sehingga dapat menyumbang PAD bagi pemerintah setempat,” katanya.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pemberantasan narkotika dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan ekonomi masyarakat.

P4GN Harus Dimulai dari Pencegahan

Dalam pidatonya, Kepala BNN RI kembali menegaskan bahwa ukuran keberhasilan P4GN tidak hanya dilihat dari jumlah pelaku yang ditangkap atau luas lahan ganja yang dimusnahkan.

Lebih penting lagi adalah bagaimana pemerintah mampu mencegah munculnya pelaku baru melalui pembangunan kesejahteraan masyarakat.

“Kita tidak sekadar mengedepankan pemberantasan dengan hasil, tetapi kita lebih bangga apabila kita bisa mencegah dari hulunya,” tegas Suyudi.

Pendekatan preventif tersebut dinilai lebih efektif dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.

Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat

Pelaksanaan GDAD juga melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, instansi pertanian, hingga masyarakat setempat.

Kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting agar masyarakat memperoleh pendampingan mulai dari proses budidaya, pelatihan, pemasaran hasil panen hingga akses pembiayaan usaha.

Dengan adanya dukungan tersebut, masyarakat diharapkan semakin percaya diri meninggalkan aktivitas ilegal dan beralih pada usaha pertanian yang sah.

Strategi Jangka Panjang Pemberantasan Narkoba

BNN RI menegaskan bahwa perang terhadap narkotika membutuhkan strategi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Penegakan hukum tetap menjadi prioritas terhadap jaringan peredaran gelap narkotika.

Namun di sisi lain, pembangunan ekonomi masyarakat juga menjadi fondasi penting agar sumber-sumber produksi narkotika tidak kembali muncul.

Pendekatan yang menggabungkan aspek hukum, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat diyakini mampu menciptakan hasil yang lebih berkelanjutan.

Melalui Program GDAD, pemerintah berharap kawasan-kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai daerah rawan budidaya ganja dapat berubah menjadi sentra pertanian legal yang produktif serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkesinambungan.

Penutup

Program Grand Design Alternative Development (GDAD) menjadi salah satu bukti bahwa pemberantasan narkotika tidak hanya dilakukan melalui tindakan represif, tetapi juga dengan membangun masa depan masyarakat.

Transformasi petani ganja menjadi petani kopi menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan ekonomi dapat menjadi solusi jangka panjang dalam memutus rantai peredaran narkotika.

BNN RI berharap keberhasilan program ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa, sehingga upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) dapat berjalan lebih efektif, manusiawi, dan berkelanjutan.