Blora, Lintasnusa.com – Komandan Kodim (Dandim) 0721/Blora, Letkol Kav Yudhi Agus Setiyanto, S.Sos., melaksanakan kegiatan peninjauan strategis ke Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) Kebakaran Hutan dan Lahan KPH Randublatung. Kunjungan kerja ini dirangkaikan dengan peninjauan langsung ke lokasi Marshaling Area rencana pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) Ke-2 di wilayah Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Selasa (23/6/2026).
Langkah taktis ini diambil guna memastikan seluruh aspek kesiapan sarana, prasarana, serta infrastruktur pendukung yang akan difungsikan sebagai lokasi penampungan sementara bagi para personel Yonif TP. Kehadiran satuan baru ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan wilayah sekaligus mendukung program pembangunan nasional berbasis teritorial di Blora.
Urgensi Peninjauan Marshaling Area oleh Dandim 0721/Blora
Peninjauan yang dipimpin langsung oleh Letkol Kav Yudhi Agus Setiyanto ini memegang peranan krusial dalam lini masa pembentukan Yonif TP di Blora. Marshaling area atau daerah persiapan merupakan titik vital dalam manajemen logistik dan pergeseran pasukan. Di lokasi inilah seluruh personel, material, dan kendaraan taktis akan diorganisasi sebelum menempati pangkalan tetap.
Menurut Dandim 0721/Blora, ketepatan pemilihan dan kesiapan marshaling area akan sangat menentukan tingkat efisiensi operasional pasukan di lapangan.
“Kami harus memastikan bahwa fasilitas yang ada di Randublatung ini benar-benar siap dan layak untuk menampung personel. Aspek keamanan, ketersediaan air bersih, aksesibilitas jalur logistik, serta koordinasi dengan pemangku kebijakan lokal seperti perhutani menjadi faktor penentu kelancaran proyek strategis ini,” ujar Letkol Kav Yudhi Agus Setiyanto.
Pemetaan Dua Lokasi Strategis Yonif TP di Kabupaten Blora

Kabupaten Blora dinilai memiliki posisi geopolitik dan geografis yang sangat strategis dalam sistem pertahanan teritorial di Jawa Tengah. Oleh karena itu, wilayah ini dipercaya untuk memfasilitasi pembangunan satuan Yonif TP. Tidak tanggung-tanggung, terdapat dua titik utama yang diproyeksikan sebagai markas satuan tersebut:
1. Yonif TP Desa Kedungwaru, Kecamatan Kunduran
Lokasi pertama yang sudah direncanakan sebelumnya berada di Desa Kedungwaru, Kecamatan Kunduran. Kawasan ini akan memfokuskan operasionalnya pada integrasi pertahanan wilayah barat Blora yang berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga.
2. Yonif TP Kawasan Hutan RPH Bodeh, KPH Randublatung
Lokasi kedua, yang menjadi fokus peninjauan kali ini, berada di kawasan hutan Resor Polisi Hutan (RPH) Bodeh, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Beran, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Pemilihan kawasan hutan ini tentu telah melalui kajian mendalam terkait strategi pertahanan, konservasi lingkungan, serta pengamanan aset negara.
Baca Juga : Polisi Buru Tersangka Penyekapan dan Penganiayaan Perempuan di Bandung, Polda Jabar Bentuk Tim Gabungan
Dengan adanya dua titik strategis ini, persebaran kekuatan teritorial di Kabupaten Blora akan semakin solid, seimbang, dan mampu merespons potensi gangguan maupun kebutuhan pembangunan daerah secara cepat.
Sinergi TNI dan Perum Perhutani KPH Randublatung
Salah satu poin penting dalam peninjauan ini adalah keterlibatan aktif dari administrasi kepemerintahan kehutanan setempat. Mengingat lahan yang akan digunakan berada di bawah naungan Perum Perhutani, koordinasi intensif terus dibangun agar status lahan dan pemanfaatannya tidak menabrak regulasi lingkungan.
Turut hadir dalam kegiatan peninjauan tersebut antara lain:
-
Letkol Kav Yudhi Agus Setiyanto, S.Sos. (Dandim 0721/Blora)
-
Rovi Tri Kuncoro, S.Hut. (Administratur/ADM KPH Randublatung)
-
Kapten Inf Teguh Linarto (Danramil 09/Randublatung)
-
Jajaran Babinsa setempat dan anggota KPH Randublatung.
Sinergi antara Kodim 0721/Blora dan KPH Randublatung ini menjadi percontohan bagaimana instansi militer dan badan usaha milik negara (BUMN) sektor kehutanan dapat berjalan beriringan untuk kepentingan pertahanan negara tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem hutan.
Apa itu Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP)?
Bagi sebagian masyarakat awam, istilah Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) mungkin terdengar baru. Satuan ini merupakan inovasi taktis dalam postur pertahanan TNI Angkatan Darat. Berbeda dengan batalyon infanteri tempur murni (pemukul), Yonif TP mengintegrasikan kemampuan tempur dengan keahlian teritorial konstruktif.
Tugas Utama Yonif TP:
-
Pertahanan Wilayah: Menjaga kedaulatan NKRI dari potensi ancaman berbasis wilayah.
-
Akselerasi Pembangunan: Membantu pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah terisolasi, tertinggal, maupun kawasan hutan.
-
Penanggulangan Bencana: Menjadi kekuatan respons cepat saat terjadi bencana alam, seperti kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang rawan terjadi di kawasan Blora.
-
Pemberdayaan Masyarakat: Melakukan pembinaan teritorial (Binter) untuk meningkatkan kesejahteraan dan rasa nasionalisme warga lokal.
Melalui pendekatan ini, personel Yonif TP tidak hanya dipersenjatai dengan kemampuan militer, tetapi juga dibekali dengan kapasitas manajemen bencana dan pembangunan daerah.
Antisipasi Karhutla: Kunjungan ke Puskodal KPH Randublatung
Sebelum bergeser ke lokasi marshaling area, Dandim 0721/Blora terlebih dahulu menyambangi Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) Kebakaran Hutan dan Lahan KPH Randublatung. Wilayah Randublatung yang didominasi oleh hutan jati sangat rentan terhadap ancaman kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau.
Kunjungan ke Puskodal ini bertujuan untuk menyelaraskan sistem deteksi dini (early warning system) kebakaran hutan dengan pos-pos TNI terdekat. Ke depan, kehadiran Yonif TP Ke-2 di RPH Bodeh diproyeksikan akan memperkuat lini depan penanganan Karhutla. Personel TNI dapat langsung diterjunkan bersama Polisi Hutan (Polhut) dan masyarakat peduli api untuk melakukan pemadaman sebelum api meluas.
Dampak Positif Pembangunan Yonif TP bagi Masyarakat Randublatung
Pembangunan markas militer setingkat batalyon di suatu wilayah dipastikan akan membawa dampak turunan (multiplier effect) yang signifikan bagi roda perekonomian dan sosial masyarakat setempat. Berikut adalah beberapa dampak positif yang diproyeksikan lahir dengan berdirinya Yonif TP di Randublatung:
| Sektor | Dampak Positif yang Diharapkan |
| Keamanan | Menekan angka pencurian kayu (illegal logging) dan kriminalitas di kawasan hutan. |
| Ekonomi | Menumbuhkan UMKM baru, warung makan, hunian sewa, dan serapan tenaga kerja lokal saat konstruksi. |
| Infrastruktur | Perbaikan akses jalan, jembatan, dan jaringan listrik menuju lokasi batalyon yang berimbas pada desa sekitar. |
| Kesehatan & Sosial | Fasilitas kesehatan batalyon biasanya dapat diakses oleh masyarakat umum dalam situasi darurat. |
Pemerintah Kabupaten Blora dan jajaran TNI berkomitmen penuh agar pembangunan ini tidak menggusur, melainkan justru mengayomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang tinggal di sekitar tepian hutan (masyarakat pesanggem).
Menatap Target Penyelesaian Proyek
Dengan selesainya peninjauan lapangan di Randublatung ini, seluruh data teknis, kondisi geografis, dan catatan sarana prasarana akan segera dievaluasi di tingkat Makodim 0721/Blora untuk kemudian dilaporkan ke komando atas (Korem dan Kodam IV/Diponegoro).
Dandim Blora menegaskan bahwa seluruh aspek pendukung harus dipenuhi secara cermat agar tidak ada kendala berarti saat mobilisasi pasukan dimulai. Targetnya, pembangunan fisik dan operasional Yonif TP Ke-2 di Randublatung ini dapat berjalan simultan dengan proyek Yonif TP di Kunduran, sehingga target penguatan teritorial di wilayah Jawa Tengah bagian timur dapat tercapai tepat waktu sesuai dengan linimasa yang diinstruksikan oleh Markas Besar TNI.
Sinergi kuat antara TNI, Perhutani, Pemerintah Daerah, dan seluruh elemen masyarakat Blora menjadi kunci utama suksesnya perwujudan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan ini.







