Kisah Haru Dua Korban KLM Nurul Salsa Selamat Setelah 4 Hari Terapung di Laut Selayar, Bertahan Bersama Tiga Jenazah

Berita71 Dilihat

Jakarta, Lintasnusa.com – Sebuah kisah perjuangan hidup yang mengharukan datang dari musibah tenggelamnya Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Dua korban, Asmal (24) dan Nurmiati (46), berhasil bertahan hidup setelah hanyut selama empat hari di lautan dengan berpegangan pada sebuah gabus dan mengenakan jaket pelampung.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Keduanya akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Namun, perjuangan mereka untuk bertahan hidup menyisakan duka mendalam karena selama beberapa hari mereka juga bersama tiga korban lain yang meninggal dunia.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi laut yang menyita perhatian publik sekaligus menggambarkan beratnya perjuangan korban bertahan hidup di tengah ganasnya lautan.

Ditemukan Terapung di Atas Gabus

Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Didid Imawan, menjelaskan bahwa kedua korban ditemukan saat masih berada di atas sebuah gabus yang berfungsi sebagai alat apung darurat.

Saat ditemukan, Asmal dan Nurmiati masih mengenakan jaket pelampung sehingga kondisi mereka memungkinkan untuk tetap mengapung selama berhari-hari.

Baca Juga : Polda Metro Jaya Imbau Nobar Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina Tanpa Miras dan Konvoi

Setelah ditemukan oleh tim penyelamat, keduanya segera dievakuasi menuju Pulau Matala’ang, Desa Sabalana, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep untuk mendapatkan pertolongan awal.

Menurut pihak kepolisian, kondisi keduanya saat ditemukan cukup lemah akibat berhari-hari terpapar panas matahari, angin, dan gelombang laut.

Bertahan Hidup Selama Empat Hari

Asmal dan Nurmiati diketahui merupakan warga Dusun Tangnga, Desa Tanamalala, Kecamatan Pasimasunggu, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Dalam keterangan awal kepada aparat, keduanya mengungkapkan bahwa awalnya terdapat lima orang yang sama-sama berhasil menyelamatkan diri menggunakan gabus setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam.

Mereka terus hanyut mengikuti arus laut selama beberapa hari tanpa persediaan makanan maupun minuman yang memadai.

Selama masa tersebut, kondisi fisik para korban terus menurun akibat dehidrasi, kelelahan, serta paparan cuaca ekstrem.

Tiga Rekan Meninggal Dunia

Perjuangan bertahan hidup tersebut berubah menjadi kisah yang sangat memilukan.

Berdasarkan pengakuan kedua korban, tiga dari lima orang yang bertahan di atas gabus akhirnya meninggal dunia selama hanyut di lautan.

Kematian tersebut diduga dipengaruhi oleh kondisi fisik yang semakin melemah setelah berhari-hari berada di tengah laut.

Peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi Asmal dan Nurmiati yang harus tetap bertahan hidup dalam situasi yang sangat sulit.

Terpaksa Melepaskan Jenazah ke Laut

Salah satu bagian paling menyedihkan dari kisah ini adalah keputusan yang harus diambil kedua korban terhadap jenazah rekan-rekannya.

Menurut keterangan kepada polisi, setelah sekitar dua malam berlalu, kondisi jenazah mulai mengalami pembusukan.

Dalam keadaan terombang-ambing di tengah laut tanpa bantuan, Asmal dan Nurmiati mengaku tidak memiliki pilihan selain melepaskan ketiga jenazah tersebut ke laut.

Keputusan itu diambil bukan karena mengabaikan rekan mereka, melainkan karena keterbatasan kondisi dan demi mempertahankan keselamatan diri.

Hingga kini identitas ketiga korban yang meninggal tersebut masih belum dapat dipastikan.

Polisi Dalami Keterangan Korban

Kapolres AKBP Didid Imawan mengatakan pihak kepolisian masih akan menggali informasi lebih lanjut dari kedua korban.

Namun pemeriksaan mendalam baru akan dilakukan setelah kondisi kesehatan Asmal dan Nurmiati benar-benar pulih.

Keterangan dari keduanya dianggap sangat penting untuk mengetahui kronologi tenggelamnya KLM Nurul Salsa sekaligus membantu proses pencarian korban lain yang kemungkinan masih belum ditemukan.

Informasi mengenai posisi kapal tenggelam, arah hanyut, serta jumlah penumpang menjadi petunjuk penting bagi tim pencarian.

Fokus Pencarian Korban Lain

Hingga saat ini, aparat bersama tim SAR masih melakukan upaya pencarian terhadap kemungkinan korban lain yang belum ditemukan.

Operasi pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti:

  • Arah arus laut.
  • Kecepatan angin.
  • Kondisi gelombang.
  • Perkiraan lokasi terakhir kapal tenggelam.

Keterangan yang diberikan Asmal dan Nurmiati diharapkan dapat mempersempit area pencarian sehingga proses evakuasi dapat berjalan lebih efektif.

Bahaya Bertahan di Tengah Laut

Bertahan hidup selama empat hari di tengah lautan merupakan kondisi yang sangat berisiko.

Korban menghadapi berbagai ancaman, antara lain:

  • Dehidrasi akibat kekurangan air minum.
  • Paparan sinar matahari yang terus-menerus.
  • Hipotermia saat malam hari.
  • Gelombang tinggi.
  • Kelelahan fisik dan mental.

Dalam situasi seperti itu, penggunaan jaket pelampung menjadi faktor penting yang meningkatkan peluang keselamatan korban.

Selain menjaga tubuh tetap mengapung, jaket pelampung juga membantu mengurangi energi yang dikeluarkan selama bertahan di air.

Pentingnya Alat Keselamatan di Kapal

Musibah ini kembali mengingatkan pentingnya penerapan standar keselamatan pelayaran.

Setiap kapal yang mengangkut penumpang seharusnya dilengkapi dengan:

  • Jaket pelampung sesuai jumlah penumpang.
  • Pelampung tambahan.
  • Peralatan komunikasi darurat.
  • Radio maritim.
  • Perlengkapan penyelamatan lainnya.

Selain itu, penumpang juga diimbau memahami prosedur keselamatan sebelum kapal berlayar sehingga dapat bertindak cepat apabila terjadi keadaan darurat.

Dukungan untuk Korban dan Keluarga

Selamatnya Asmal dan Nurmiati menjadi secercah harapan di tengah tragedi tenggelamnya KLM Nurul Salsa.

Namun, kisah mereka juga menyisakan duka mendalam atas meninggalnya rekan-rekan seperjuangan yang tidak berhasil bertahan.

Pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta instansi terkait diharapkan terus memberikan pendampingan kepada korban yang selamat, baik dari sisi medis maupun psikologis.

Sementara itu, keluarga korban yang masih hilang juga menantikan kepastian melalui proses pencarian yang masih berlangsung.

Kesimpulan

Kisah Asmal dan Nurmiati menunjukkan betapa besar perjuangan manusia untuk bertahan hidup dalam kondisi ekstrem. Selama empat hari mereka mengapung di lautan menggunakan gabus dan jaket pelampung setelah KLM Nurul Salsa tenggelam di perairan Selayar.

Meski berhasil diselamatkan di wilayah Pangkep, pengalaman pahit yang mereka alami menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan pelayaran dan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat di laut. Hingga kini, aparat kepolisian bersama tim SAR masih terus mendalami keterangan kedua korban guna mengungkap kronologi lengkap kejadian sekaligus membantu pencarian korban lainnya