Joint List Tolak Gabung Koalisi Gadi Eisenkot, tetapi Siap Dukung untuk Singkirkan Netanyahu

Berita, Politik96 Dilihat

Indonesia,Lintasnusa.com – Dinamika politik Israel kembali menjadi perhatian setelah Joint List, kelompok politik yang mewakili kepentingan masyarakat Arab di Israel, memutuskan tidak bergabung secara langsung dengan koalisi pemerintahan yang tengah diupayakan oleh Gadi Eisenkot.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Meski menolak menjadi bagian dari pemerintahan, Joint List menyatakan kesediaannya memberikan dukungan politik dari luar koalisi. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan baru sekaligus mengakhiri kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Ketua Joint List, Ahmad Tibi, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin menjadi bagian dari pemerintahan potensial yang dipimpin Eisenkot. Namun, mereka bersedia memberikan dukungan parlemen agar proses pembentukan koalisi tidak semakin sulit.

Sikap tersebut disampaikan Tibi dalam wawancara program Meet the Press pada Sabtu (31/10/2026), sebagaimana dilaporkan Jerusalem Post.

“Kami tak akan menjadi bagian dari pemerintahan. Proses koalisi (kami ingin) lebih mudah bukan sulit,” kata Tibi.

Pernyataan itu memperlihatkan strategi politik Joint List dalam menghadapi perkembangan pembentukan pemerintahan Israel. Mereka memilih berada di luar struktur kabinet, tetapi tetap membuka peluang bekerja sama dalam sejumlah agenda politik yang memiliki kepentingan bersama.

Salah satu tujuan utama yang disampaikan adalah mendukung perubahan pemerintahan agar Benjamin Netanyahu tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri.

Joint List Pilih Dukung Koalisi Eisenkot dari Luar Pemerintahan

Keputusan Joint List untuk tidak masuk ke dalam koalisi Gadi Eisenkot berkaitan dengan kondisi politik Israel yang memiliki perbedaan pandangan tajam terhadap keterlibatan partai-partai Arab dalam pemerintahan.

Ahmad Tibi menilai keikutsertaan partai Arab secara langsung justru berpotensi mempersulit proses pembentukan koalisi.

Hal itu tidak terlepas dari sikap sejumlah partai sayap kanan Israel yang menolak keterlibatan kelompok politik Arab dalam pemerintahan.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Joint List memilih mengambil posisi sebagai pendukung dari luar pemerintahan.

Strategi ini memungkinkan mereka memberikan suara dalam keputusan parlemen tertentu tanpa harus menjadi bagian dari kabinet atau terikat sepenuhnya pada seluruh kebijakan pemerintah.

Bagi Joint List, dukungan dari luar dapat menjadi jalan tengah untuk tetap memperjuangkan kepentingan masyarakat Arab-Israel sekaligus mendukung terbentuknya pemerintahan alternatif.

Dalam sistem politik parlementer Israel, dukungan partai di luar kabinet dapat memiliki arti penting, terutama ketika koalisi pemerintahan membutuhkan suara tambahan untuk mempertahankan mayoritas di parlemen.

Karena itu, keputusan Joint List berpotensi menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam proses pembentukan pemerintahan baru.

Penolakan Partai Sayap Kanan terhadap Partai Arab

Salah satu persoalan yang dihadapi dalam pembentukan koalisi Eisenkot adalah penolakan dari sejumlah kekuatan politik sayap kanan Israel terhadap keterlibatan partai Arab.

Blok politik pendukung Benjamin Netanyahu diketahui menolak kemungkinan partai-partai Arab menjadi bagian dari pemerintahan.

Netanyahu bahkan berulang kali melontarkan tuduhan bahwa partai-partai tersebut mendukung organisasi yang dicap sebagai teroris.

Pernyataan dan sikap politik tersebut menjadi bagian dari perdebatan panjang mengenai posisi partai Arab dalam sistem pemerintahan Israel.

Di sisi lain, Gadi Eisenkot disebut membuka kesempatan bagi berbagai kelompok politik untuk bergabung dalam koalisinya, selama mereka bersedia menerima sejumlah persyaratan mendasar yang telah ditetapkan.

Situasi ini membuat posisi Joint List menjadi cukup rumit.

Di satu sisi, mereka memiliki kepentingan untuk memperjuangkan hak dan kebutuhan masyarakat Arab-Israel. Namun, di sisi lain, keterlibatan langsung dalam pemerintahan berpotensi memunculkan penolakan dari kelompok politik lain yang dibutuhkan untuk membangun mayoritas parlemen.

Dengan memilih dukungan dari luar, Joint List berupaya mempertahankan pengaruh politik tanpa harus memicu hambatan tambahan dalam negosiasi koalisi.

Syarat Gadi Eisenkot bagi Partai yang Ingin Bergabung

Dalam upaya membangun pemerintahan baru, Gadi Eisenkot disebut membuka pintu bagi partai-partai yang bersedia menerima sejumlah prinsip politik dan kenegaraan.

Persyaratan tersebut mencakup pengakuan terhadap Israel sebagai negara Yahudi, demokratis, liberal, dan egaliter.

Selain itu, partai yang ingin bergabung juga diharapkan berkomitmen terhadap nilai-nilai yang tercantum dalam Deklarasi Kemerdekaan Israel.

Persyaratan lainnya berkaitan dengan kewajiban militer dan dinas nasional bagi seluruh warga negara.

Eisenkot juga mensyaratkan pengakuan terhadap Hamas sebagai organisasi teroris.

Sejumlah ketentuan tersebut menjadi dasar yang harus dipenuhi oleh kelompok politik yang ingin masuk ke dalam pemerintahan potensial.

Persyaratan tersebut sekaligus menggambarkan bagaimana perbedaan pandangan mengenai identitas negara, keamanan, serta kewarganegaraan menjadi persoalan penting dalam politik Israel.

Bagi partai-partai Arab, sejumlah persyaratan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan politik yang tidak sederhana, terutama terkait posisi mereka dalam sistem kenegaraan Israel dan perjuangan kepentingan masyarakat Arab.

Meski demikian, Joint List tampaknya memilih tidak terlibat langsung dalam pembahasan tersebut sebagai anggota kabinet.

Mereka lebih memprioritaskan dukungan parlemen dengan sejumlah tuntutan yang berkaitan langsung dengan persoalan masyarakat Arab-Israel.

Joint List Siap Dukung Pergantian Ketua Parlemen Israel

Selain memberikan dukungan terhadap pembentukan pemerintahan baru, Ahmad Tibi juga menyampaikan bahwa anggota parlemen dari Joint List siap mendukung sejumlah langkah politik di Knesset atau parlemen Israel.

Salah satunya adalah pergantian ketua parlemen, Amir Ohana.

Dukungan terhadap perubahan posisi ketua parlemen tersebut menjadi bagian dari strategi politik yang diambil Joint List dalam menghadapi blok pemerintahan Netanyahu.

Selain itu, Tibi juga menyatakan bahwa kelompoknya akan memberikan suara menolak mosi tidak percaya yang diajukan oleh Partai Likud terhadap pemerintahan potensial Eisenkot.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa meskipun tidak bergabung ke dalam kabinet, Joint List tetap ingin mengambil peran dalam menentukan arah politik parlemen.

Dukungan terhadap pemerintahan alternatif dapat menjadi penting ketika koalisi membutuhkan stabilitas politik untuk menghadapi berbagai upaya penolakan dari kelompok oposisi.

Dalam sistem parlementer, suara setiap anggota parlemen dapat memengaruhi keberlangsungan pemerintahan, terutama ketika komposisi kekuatan politik terbilang ketat.

Karena itu, pernyataan Tibi memberikan gambaran bahwa dukungan Joint List tidak hanya sebatas pernyataan politik, tetapi juga berkaitan dengan keputusan-keputusan penting di parlemen.

Dukungan Joint List Didasarkan pada Sejumlah Tuntutan

Ahmad Tibi juga menjelaskan bahwa dukungan politik dari luar koalisi tidak diberikan tanpa syarat.

Joint List menginginkan adanya kesepakatan mengenai sejumlah persoalan yang selama ini menjadi perhatian masyarakat Arab-Israel.

Dua isu yang secara khusus disebut adalah penanganan kejahatan terhadap warga Arab-Israel serta pengakuan terhadap desa-desa masyarakat Badui.

Persoalan kejahatan dan keamanan masyarakat Arab menjadi salah satu isu penting yang ingin diperjuangkan kelompok tersebut.

Mereka menginginkan adanya langkah nyata untuk menangani tindak kriminalitas yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat Arab di Israel.

Selain itu, persoalan desa-desa Badui juga menjadi bagian dari agenda politik yang diajukan Joint List.

Pengakuan terhadap desa-desa Badui berkaitan dengan persoalan status permukiman, pengakuan administratif, serta akses masyarakat terhadap layanan dasar dan pembangunan.

Dengan memasukkan persoalan tersebut dalam kesepakatan politik, Joint List berharap dukungan mereka terhadap pemerintahan baru dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang mereka wakili.

Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa dukungan parlemen dari kelompok politik minoritas dapat menjadi sarana untuk memperjuangkan agenda kebijakan tertentu.

Benjamin Netanyahu Menghadapi Tantangan Politik

Sikap Joint List muncul di tengah upaya pembentukan pemerintahan alternatif yang dipimpin Gadi Eisenkot.

Benjamin Netanyahu selama ini menjadi salah satu tokoh paling dominan dalam politik Israel. Namun, persaingan dan perbedaan kepentingan antarpartai membuat pembentukan pemerintahan selalu menjadi proses politik yang kompleks.

Dalam sistem pemerintahan parlementer Israel, posisi perdana menteri sangat bergantung pada kemampuan membangun dukungan mayoritas di Knesset.

Artinya, kekuatan politik suatu kelompok tidak hanya ditentukan oleh jumlah kursi yang dimiliki, tetapi juga kemampuannya menjalin kesepakatan dengan partai lain.

Dalam situasi seperti ini, dukungan dari Joint List dapat menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan oleh kelompok Eisenkot.

Meskipun tidak masuk kabinet, dukungan mereka dapat memengaruhi hasil pemungutan suara dalam sejumlah agenda parlemen.

Sementara itu, Partai Likud yang menjadi bagian dari blok Netanyahu memiliki kepentingan untuk mempertahankan posisi politiknya.

Perbedaan strategi dan kepentingan tersebut membuat proses pembentukan pemerintahan baru menjadi arena persaingan politik yang melibatkan banyak kelompok.

Posisi Partai Arab dalam Politik Israel

Keterlibatan partai-partai Arab dalam politik Israel merupakan salah satu isu penting yang terus berkembang.

Partai-partai tersebut membawa berbagai kepentingan masyarakat Arab-Israel, mulai dari persoalan keamanan, kesetaraan hak, pembangunan permukiman, pendidikan, hingga pelayanan publik.

Keberadaan mereka di parlemen memungkinkan kepentingan masyarakat Arab disuarakan dalam proses pengambilan keputusan negara.

Namun, keterlibatan dalam pemerintahan sering kali menghadapi tantangan politik karena adanya perbedaan pandangan mengenai identitas negara, kebijakan keamanan, dan hubungan antara kelompok masyarakat.

Penolakan dari sebagian partai sayap kanan terhadap keterlibatan partai Arab dalam koalisi menjadi salah satu gambaran dari kompleksitas tersebut.

Dalam konteks ini, keputusan Joint List untuk mendukung pemerintahan dari luar dapat dipahami sebagai strategi politik untuk mempertahankan pengaruh tanpa harus menghadapi seluruh hambatan yang muncul ketika menjadi bagian dari kabinet.

Langkah tersebut juga membuka peluang bagi Joint List untuk tetap menuntut kesepakatan mengenai persoalan yang dianggap penting bagi konstituen mereka.

Masa Depan Koalisi Eisenkot Masih Bergantung pada Dukungan Parlemen

Pernyataan Ahmad Tibi menunjukkan adanya peluang kerja sama politik antara Joint List dan kelompok yang dipimpin Gadi Eisenkot.

Baca Juga : Karhutla Jatim Hanguskan 11.895 Hektare Sepanjang 2026, Kekeringan Meluas

Namun, dukungan dari luar pemerintahan tidak secara otomatis menjamin terbentuknya koalisi yang stabil.

Eisenkot tetap harus melakukan komunikasi politik dengan berbagai partai untuk memastikan dukungan yang cukup di parlemen.

Selain persoalan jumlah suara, kesepakatan mengenai kebijakan, pembagian tanggung jawab pemerintahan, serta perbedaan ideologi juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Sementara itu, Joint List memiliki kepentingan untuk memastikan bahwa dukungan mereka tidak hanya digunakan untuk kepentingan pergantian pemerintahan, tetapi juga menghasilkan kesepakatan yang menyentuh persoalan masyarakat Arab-Israel.

Dengan demikian, hubungan politik antara kedua kelompok kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh proses negosiasi dan kesepakatan yang dicapai.

Kesimpulan

Keputusan Joint List untuk tidak bergabung langsung dengan koalisi Gadi Eisenkot, tetapi bersedia memberikan dukungan dari luar, menjadi perkembangan penting dalam dinamika politik Israel.

Ahmad Tibi menegaskan bahwa langkah tersebut diambil agar proses pembentukan pemerintahan tidak semakin sulit akibat penolakan dari kelompok sayap kanan terhadap partai-partai Arab.

Di sisi lain, Joint List tetap mengajukan sejumlah tuntutan, terutama terkait penanganan kejahatan terhadap warga Arab-Israel dan pengakuan desa-desa Badui.

Dukungan terhadap pergantian ketua parlemen Amir Ohana serta penolakan terhadap mosi tidak percaya dari Likud juga menjadi bagian dari strategi politik yang disampaikan Tibi.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada proses negosiasi antara Eisenkot dan kelompok politik lainnya, serta kemampuan mereka memperoleh dukungan yang diperlukan di parlemen.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan pemerintahan Israel tidak hanya ditentukan oleh persaingan antara Netanyahu dan Eisenkot, tetapi juga oleh posisi partai-partai kecil dan kelompok politik yang memiliki suara penting dalam Knesset.