Super Flu Masuk Indonesia, 62 Orang Terpapar, Kemenkes Pastikan Terkendali

Berita157 Dilihat

Jakarta, Lintasnusa.com – Varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang populer disebut super flu, telah terdeteksi di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengonfirmasi keberadaan varian tersebut sejak 25 Desember 2025.

Temuan ini dilaporkan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan sebagai bagian dari hasil pemantauan rutin influenza nasional. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan bahwa subclade K merupakan hasil mutasi terbaru dari virus Influenza A(H3N2).

“Pada tanggal 25 Desember 2025, Balai Besar Laboratorium Kesehatan melaporkan telah ditemukan Influenza A (H3N2) clade 3C.2a1b.2a.2a.3a 1/K, atau yang dikenal dengan subclade K,” ujar dr. Prima.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Jawa Timur mencatat 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan 18 kasus, serta Jawa Barat 10 kasus. Sementara itu, Sumatera Selatan melaporkan 5 kasus, dan masing-masing satu kasus tercatat di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.

Dari sisi demografi, mayoritas kasus terjadi pada perempuan, yakni 64,5 persen atau sekitar 40 kasus. Berdasarkan kelompok usia, anak-anak berusia 1 hingga 10 tahun menjadi kelompok paling terdampak dengan proporsi 35,5 persen dari total kasus.

Kelompok usia 21 hingga 30 tahun berada di posisi kedua dengan 21,0 persen, disusul usia 11 hingga 20 tahun sebesar 19,4 persen. Sementara kelompok lansia di atas 60 tahun, yang dikenal lebih rentan terhadap komplikasi influenza, menyumbang 8,1 persen dari total kasus.

Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa keberadaan subclade K di Indonesia tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza lainnya. Situasi influenza nasional saat ini masih dinilai terkendali.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, kelelahan berat, dan sakit tenggorokan,” jelas dr. Prima, dikutip dari Kompas.com, Kamis (1/1).

Apa Itu Super Flu?

Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Hingga saat ini, varian tersebut telah dilaporkan beredar di lebih dari 80 negara di dunia.

Secara global, peningkatan kasus Influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin. Di kawasan Asia, subclade K telah ditemukan di sejumlah negara, termasuk China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.

Peneliti senior Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A. Adalja, M.D., menjelaskan bahwa subclade K merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A(H3N2) yang telah bersirkulasi selama puluhan tahun.

Ia menegaskan bahwa istilah super flu bukanlah terminologi medis resmi. Penyebutan tersebut berkembang di masyarakat karena tingkat penularannya yang tinggi. Satu orang yang terinfeksi dilaporkan dapat menularkan virus kepada dua hingga tiga orang atau lebih di sekitarnya.

Kemenkes mengimbau masyarakat tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menggunakan masker saat sakit, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala influenza berat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *