AI Kuasai Industri Dracin China, 430 Ribu Microdrama Diproduksi pada 2026

Berita, Tekno36 Dilihat

Jakarta, Lintasnusa.com – Industri drama China atau dracin mengalami perubahan besar setelah kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil alih berbagai tahapan produksi. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, China mencatat sekitar 430.000 microdrama yang dirilis, dengan lebih dari 90 persen di antaranya memanfaatkan teknologi AI.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Baca Juga : Honda CRF1150L Africa Twin 2027 Debut, Hadir 3 Varian dengan Mesin 1.131 Cc

Anda salah satu orang yang ketagihan menonton microdrama China alias dracin? Belakangan, serial dengan format vertikal dan durasi pendek ini semakin sering berseliweran di media sosial, termasuk di Indonesia.

Cerita khas opera sabun yang penuh konflik, romansa, perselingkuhan, perebutan kekuasaan, hingga balas dendam menjadi daya tarik utama tayangan tersebut. Setiap episode biasanya menghadirkan adegan pemancing rasa penasaran atau cliffhanger yang membuat penonton ingin terus mengikuti kelanjutan cerita.

Namun, di balik popularitas dracin yang semakin meluas, industri microdrama China sedang mengalami perubahan besar. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai mengambil peran penting dalam proses produksi, mulai dari pengembangan naskah, pembuatan karakter, visual, animasi, hingga musik dan efek suara.

Perkembangan ini membuat proses pembuatan serial drama pendek menjadi jauh lebih cepat dibandingkan metode produksi konvensional. Bahkan, sejumlah kreator kini dapat memproduksi tayangan menggunakan tim kecil dengan bantuan berbagai perangkat AI generatif.

Fenomena tersebut terlihat dari pertumbuhan jumlah produksi microdrama di China sepanjang 2026.

Menurut data yang disampaikan pejabat National Radio and Television Administration (NRTA) China pada September 2026, sekitar 430.000 microdrama dirilis selama delapan bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut mencapai sekitar 13 kali lipat dibandingkan total produksi sepanjang 2025.

Lebih menarik lagi, lebih dari 90 persen microdrama yang dirilis dalam periode tersebut menggunakan teknologi AI.

Angka itu memperlihatkan betapa cepatnya teknologi kecerdasan buatan mengubah industri hiburan digital di China.

Popularitas Dracin Terus Meningkat

Microdrama merupakan serial video dengan episode singkat yang umumnya ditonton melalui smartphone. Formatnya banyak menggunakan tampilan vertikal sehingga sesuai dengan kebiasaan pengguna media sosial seperti TikTok, Douyin, dan berbagai platform video pendek lainnya.

Berbeda dengan serial televisi konvensional yang memiliki durasi puluhan menit setiap episode, microdrama biasanya menyajikan cerita dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Cerita dibuat dengan tempo cepat dan konflik yang muncul hampir di setiap episode. Penonton tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan kejutan cerita.

Tema yang diangkat juga sangat beragam. Mulai dari kisah cinta antara orang kaya dan orang biasa, pernikahan kontrak, kehidupan keluarga, perebutan warisan, perjalanan waktu, hingga tokoh utama yang melakukan balas dendam setelah mengalami pengkhianatan.

Pola cerita tersebut menjadi salah satu alasan microdrama mudah menarik perhatian penonton.

Setiap episode biasanya ditutup dengan konflik baru atau kejadian mengejutkan. Strategi ini membuat penonton terdorong membuka episode berikutnya untuk mengetahui kelanjutan kisah.

Selain itu, format vertikal membuat microdrama mudah dikonsumsi kapan saja. Penonton dapat menyaksikan beberapa episode ketika sedang beristirahat, dalam perjalanan, atau saat memiliki waktu luang.

Pertumbuhan industri tersebut juga didukung oleh distribusi digital yang tidak lagi bergantung pada jaringan televisi konvensional.

Produksi Microdrama China Tembus 430 Ribu Judul

Besarnya minat masyarakat terhadap tayangan pendek membuat industri microdrama berkembang sangat cepat.

Data resmi China menunjukkan sekitar 430.000 microdrama dirilis pada Januari hingga Agustus 2026. Jumlah tersebut sekitar 13 kali lipat dibandingkan total produksi sepanjang tahun sebelumnya.

Sementara itu, jumlah penonton microdrama di China telah melampaui 800 juta orang.

Nilai pasar industri microdrama China juga telah menembus 100 miliar yuan sepanjang 2025.

Besarnya jumlah penonton dan nilai pasar tersebut menjadikan microdrama sebagai salah satu sektor penting dalam industri hiburan digital China.

Pertumbuhan produksi yang sangat tinggi tidak terlepas dari penggunaan teknologi AI. Dengan bantuan kecerdasan buatan, proses yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu panjang dapat dilakukan dengan lebih sederhana.

AI memungkinkan kreator menghasilkan karakter digital, latar tempat, dialog, suara, hingga adegan tertentu tanpa harus melakukan seluruh proses pengambilan gambar secara langsung.

Akibatnya, jumlah produksi dapat meningkat dengan cepat karena hambatan biaya dan waktu semakin berkurang.

AI Mengambil Alih Banyak Tahapan Produksi Dracin

Salah satu perubahan terbesar dalam industri microdrama adalah penggunaan AI pada hampir seluruh tahapan produksi.

Sebelumnya, pembuatan drama membutuhkan berbagai tenaga profesional. Mulai dari penulis naskah, sutradara, pemain, kamerawan, penata artistik, editor, hingga tim musik dan suara.

Kini, sebagian pekerjaan tersebut dapat dibantu atau dilakukan menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Pada tahap awal, AI dapat digunakan untuk membantu mengembangkan ide cerita dan menyusun kerangka naskah.

Kreator dapat memberikan instruksi mengenai karakter, konflik, latar tempat, serta akhir cerita. Sistem AI kemudian membantu menghasilkan berbagai alternatif dialog dan alur cerita.

Setelah naskah selesai, teknologi pembuat gambar dapat digunakan untuk menciptakan wajah tokoh, kostum, lingkungan, dan berbagai kebutuhan visual.

Selanjutnya, teknologi video generatif memungkinkan gambar dan deskripsi tersebut diubah menjadi adegan bergerak.

AI juga dapat membantu menghasilkan suara karakter, musik latar, efek suara, subtitle, hingga proses penyuntingan.

Dengan menggabungkan berbagai teknologi tersebut, sebuah tim kecil dapat menangani pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak orang.

Meski demikian, hasil produksi tetap memerlukan pengawasan manusia, terutama untuk menjaga konsistensi karakter, kesinambungan cerita, kualitas visual, dan ketepatan dialog.

Kreator Bisa Memproduksi Drama dengan Tim Lebih Kecil

Perubahan teknologi ini juga melahirkan model kerja baru yang dikenal sebagai one-person crew atau kru satu orang.

Model tersebut memungkinkan seorang kreator mengelola beberapa tahapan produksi secara mandiri menggunakan komputer dan perangkat AI.

Contohnya, seorang kreator dapat mengembangkan cerita, menciptakan karakter, menghasilkan video, menambahkan subtitle, dan menyunting hasil akhirnya dengan bantuan aplikasi kecerdasan buatan.

Laporan ECNS pada September 2026 menyoroti munculnya kreator di China yang mampu mengerjakan satu hingga dua episode microdrama setiap hari menggunakan perangkat AI.

Dalam beberapa kasus, proses produksi yang sebelumnya membutuhkan tim besar kini dapat dilakukan oleh kelompok kecil.

Perubahan tersebut tentu memberikan peluang baru bagi individu yang memiliki kemampuan menulis cerita, menyusun konsep visual, dan mengoperasikan teknologi digital.

Kreator tidak lagi harus memiliki studio produksi besar untuk mulai membuat serial pendek.

Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja belum cukup. Persaingan yang semakin ketat membuat kualitas cerita dan kreativitas tetap menjadi faktor penting.

Biaya Produksi Lebih Rendah, Proses Lebih Cepat

Salah satu alasan utama AI semakin banyak digunakan adalah kemampuannya menekan biaya produksi.

Produksi drama konvensional membutuhkan biaya untuk membayar pemain, menyewa lokasi, menyiapkan properti, membayar kru, hingga melakukan proses penyuntingan.

Sementara itu, produksi berbasis AI dapat mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah komponen tersebut.

Laporan ECNS mencatat adanya perusahaan yang memanfaatkan teknologi AI untuk menghasilkan tayangan dengan biaya komputasi yang lebih rendah dan waktu pengerjaan lebih singkat dibandingkan produksi tradisional.

Di sisi lain, laporan Reuters pada September 2026 juga menggambarkan bagaimana biaya pembuatan video AI di China mengalami penurunan tajam seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya persaingan penyedia layanan.

Efisiensi tersebut membuka kesempatan bagi perusahaan kecil dan kreator independen untuk masuk ke pasar microdrama.

Dengan biaya yang lebih rendah, produsen dapat menguji berbagai ide cerita tanpa harus mengeluarkan anggaran sebesar produksi drama konvensional.

Jika sebuah cerita mendapatkan respons positif, kreator dapat mengembangkan serial berikutnya atau membuat versi dengan tema serupa.

Namun, biaya murah tidak otomatis menjamin sebuah drama akan sukses. Jumlah penonton, tingkat penyelesaian episode, kualitas cerita, dan kemampuan membangun loyalitas audiens tetap menentukan nilai komersial sebuah produksi.

Popularitas AI Microdrama Juga Menimbulkan Kekhawatiran

Di balik pertumbuhan yang pesat, penggunaan AI juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja industri hiburan.

Salah satu persoalan yang banyak dibicarakan adalah berkurangnya kebutuhan terhadap pemain dan kru produksi manusia.

Ketika karakter digital dapat dibuat menggunakan AI, perusahaan tidak selalu membutuhkan aktor untuk memerankan setiap tokoh.

Begitu pula ketika latar tempat dan adegan tertentu dapat dihasilkan secara digital, kebutuhan terhadap kru lokasi, penata artistik, dan beberapa pekerjaan teknis bisa berubah.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesempatan kerja bagi aktor, penulis, editor, dan pekerja kreatif lainnya.

Sejumlah laporan media internasional juga menyoroti perubahan kondisi kerja di pusat produksi drama pendek China, termasuk Hengdian, yang selama ini dikenal sebagai lokasi produksi film dan serial televisi.

Namun, perkembangan AI tidak berarti seluruh pekerjaan manusia langsung hilang. Industri tetap membutuhkan tenaga kreatif untuk menentukan arah cerita, mengarahkan produksi, mengevaluasi hasil, serta memastikan tayangan sesuai dengan kebutuhan penonton.

Dengan kata lain, kebutuhan keterampilan dalam industri hiburan mulai bergeser. Kemampuan menggunakan AI, mengembangkan ide, dan mengendalikan kualitas produksi menjadi semakin penting.

Persoalan Hak Cipta dan Identitas Digital

Selain dampak terhadap lapangan pekerjaan, penggunaan AI juga menghadirkan persoalan mengenai hak cipta.

Salah satu masalah yang menjadi perhatian adalah penggunaan wajah, suara, atau karakter seseorang tanpa izin.

Teknologi AI generatif dapat menghasilkan wajah dan suara yang menyerupai manusia sungguhan. Jika digunakan tanpa persetujuan, teknologi tersebut berpotensi menimbulkan pelanggaran hak atas identitas dan privasi.

Persoalan lain adalah penggunaan materi visual, naskah, musik, atau karya kreatif yang dilindungi hak cipta sebagai bahan pembuatan konten AI.

Apabila proses produksi tidak memperhatikan izin dan kepemilikan karya, konflik hukum dapat muncul antara kreator, perusahaan produksi, pemilik hak cipta, dan platform distribusi.

Pemerintah China mulai memperhatikan persoalan tersebut seiring meningkatnya jumlah tayangan yang dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan.

Otoritas penyiaran China menyatakan bahwa konten yang diproduksi menggunakan AI perlu diberi penanda yang jelas. Platform juga didorong memastikan penggunaan wajah dan suara seseorang memperoleh izin yang sesuai.

Aturan tersebut menjadi bagian dari upaya mengendalikan pertumbuhan industri microdrama agar tidak hanya mengejar jumlah produksi, tetapi juga memperhatikan kualitas dan perlindungan hak kreator.

China Mulai Memperketat Pengawasan Microdrama AI

Pertumbuhan microdrama berbasis AI yang sangat cepat membuat pemerintah China mulai memperkuat pengawasan terhadap industri tersebut.

National Radio and Television Administration (NRTA) menyatakan akan mendorong peningkatan kualitas konten sekaligus memperhatikan perlindungan hak dan kepentingan masyarakat.

Pemerintah juga menegaskan pentingnya produksi drama live-action atau drama yang melibatkan pemain manusia.

Langkah tersebut dilakukan agar industri hiburan tidak hanya dipenuhi konten yang dibuat secara otomatis menggunakan teknologi AI.

Selain itu, platform distribusi didorong untuk memberikan penanda terhadap tayangan yang menggunakan kecerdasan buatan.

Pengawasan juga diarahkan pada penggunaan identitas seseorang, termasuk wajah dan suara, agar tidak digunakan tanpa persetujuan.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah China berusaha menyeimbangkan perkembangan teknologi dengan perlindungan pekerja kreatif dan kualitas industri hiburan.

Peluang Microdrama AI Menjangkau Pasar Internasional

Pertumbuhan microdrama China tidak hanya terjadi di pasar domestik.

Serial pendek dari negara tersebut mulai menjangkau penonton di berbagai negara melalui platform digital.

Format video vertikal memudahkan konten didistribusikan ke berbagai wilayah tanpa harus melalui proses penayangan televisi konvensional.

Teknologi AI juga membantu proses penerjemahan dialog, pembuatan subtitle, pengisian suara dalam berbagai bahasa, dan penyesuaian konten untuk pasar berbeda.

Dengan dukungan tersebut, produsen dapat mengembangkan cerita yang disesuaikan dengan selera penonton di negara tujuan.

Sebagai contoh, tema romansa, fantasi, vampir, manusia serigala, dan konflik keluarga dapat dikemas dengan karakter serta latar yang lebih dekat dengan budaya pasar internasional.

China juga melihat ekspansi global sebagai peluang untuk memperluas bisnis konten digitalnya.

Penggunaan AI membuat proses produksi lintas bahasa dan budaya menjadi lebih efisien, meskipun adaptasi cerita tetap memerlukan pemahaman terhadap karakteristik penonton di masing-masing negara.

Bagaimana Masa Depan Dracin di Era AI?

Perkembangan microdrama menunjukkan bahwa teknologi kecerdasan buatan mulai mengubah cara industri hiburan memproduksi dan mendistribusikan konten.

Di satu sisi, AI memberikan peluang bagi kreator baru untuk memasuki industri dengan biaya yang lebih terjangkau.

Di sisi lain, produksi dalam jumlah besar juga berpotensi membuat pasar dipenuhi tayangan dengan cerita yang seragam.

Jika terlalu banyak produsen menggunakan pola cerita, karakter, dan visual yang hampir sama, penonton dapat mengalami kejenuhan.

Karena itu, tantangan terbesar industri microdrama bukan hanya menghasilkan video sebanyak mungkin, melainkan menciptakan cerita yang memiliki ciri khas dan mampu membangun hubungan emosional dengan penonton.

Kualitas naskah, kreativitas, konsistensi karakter, serta kemampuan memahami kebiasaan audiens akan tetap menjadi faktor penting.

AI kemungkinan akan terus digunakan sebagai alat produksi, tetapi keberhasilan sebuah drama tetap bergantung pada bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kreativitas.

Bagi penonton, perubahan ini mungkin tidak selalu terlihat secara langsung. Mereka tetap menikmati cerita tentang cinta, pengkhianatan, keluarga, dan balas dendam melalui layar smartphone.

Namun, di balik tayangan yang semakin mudah diproduksi tersebut, industri hiburan China sedang memasuki babak baru.

Dengan ratusan ribu judul yang dirilis dan lebih dari 90 persen produksi baru menggunakan AI dalam delapan bulan pertama 2026, microdrama menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kecerdasan buatan mengubah industri kreatif.

Persaingan ke depan bukan hanya tentang siapa yang mampu menghasilkan tayangan paling banyak, tetapi juga siapa yang dapat menghadirkan cerita paling menarik dan berkualitas bagi penonton.