Jakarta, Lintasnusa.com – Perkembangan teknologi robot humanoid semakin menarik perhatian dunia. Robot yang memiliki bentuk menyerupai manusia tersebut kini tidak hanya dikembangkan untuk menari, berjalan, mencuci piring, atau membantu pekerjaan sehari-hari. Teknologi robot humanoid bahkan mulai diuji untuk menjalankan tugas rumit di bidang kedokteran, termasuk membantu melakukan operasi bedah.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Baca Juga :Â Honda CRF1150L Africa Twin 2027 Debut, Hadir 3 Varian dengan Mesin 1.131 Cc
Salah satu terobosan terbaru datang dari tim peneliti University of California San Diego (UC San Diego), Amerika Serikat. Para peneliti berhasil menggunakan robot humanoid buatan China untuk menjalankan prosedur operasi pengangkatan kantong empedu pada dua ekor babi hidup.
Penelitian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan teknologi robotika medis. Untuk pertama kalinya, robot humanoid serbaguna digunakan dalam prosedur bedah minimal invasif pada hewan hidup dalam uji praklinis.
Robot yang digunakan adalah Unitree G1, produk buatan perusahaan robotika asal China, Unitree Robotics. Dalam penelitian tersebut, sistem robot bedah ini dikenal dengan nama Surgie atau LapSurgie.
Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature pada 8 Juli 2026 dengan judul In vivo feasibility study of humanoid robots in surgery. Penelitian ini dipimpin oleh tim gabungan dari bidang teknik dan kedokteran di UC San Diego, dengan Zekai Liang sebagai penulis pertama sekaligus penulis korespondensi.
Robot Humanoid Unitree G1 Diuji di Ruang Operasi
Unitree G1 pada dasarnya merupakan robot humanoid serbaguna yang dirancang untuk melakukan berbagai aktivitas dengan bentuk dan gerakan menyerupai manusia. Robot ini bukan perangkat medis khusus yang sejak awal dibuat hanya untuk melakukan operasi.
Namun, para peneliti UC San Diego mengembangkan sistem khusus agar robot tersebut dapat menggunakan instrumen bedah yang lazim digunakan dalam operasi laparoskopi.
Pendekatan ini menarik karena berbeda dari sistem robot bedah konvensional. Sebagian besar robot bedah yang telah digunakan dalam dunia medis dirancang secara khusus untuk menjalankan prosedur operasi tertentu.
Sementara itu, robot humanoid seperti Unitree G1 dikembangkan untuk bekerja di berbagai lingkungan yang dirancang bagi manusia. Dengan kemampuan tersebut, robot berpotensi menggunakan peralatan dan berinteraksi dengan fasilitas yang sudah tersedia di rumah sakit.
Tim peneliti kemudian menggabungkan robot humanoid dengan instrumen bedah, kamera, sistem kendali, serta teknologi teleoperasi. Kombinasi tersebut memungkinkan gerakan robot dikendalikan oleh dokter bedah dari konsol kendali.
Dengan demikian, robot bertindak sebagai perangkat fisik yang menjalankan gerakan tangan dan memanipulasi instrumen bedah, sedangkan keputusan serta kendali prosedur tetap berada di tangan manusia.
Berhasil Mengangkat Kantong Empedu Dua Babi Hidup
Dalam penelitian tersebut, para peneliti melakukan dua prosedur pengangkatan kantong empedu atau kolesistektomi laparoskopi pada babi hidup.
Operasi dilakukan melalui teknik bedah minimal invasif. Teknik ini menggunakan beberapa sayatan kecil sebagai akses untuk memasukkan kamera dan instrumen bedah ke dalam tubuh pasien.
Berbeda dengan operasi terbuka yang membutuhkan sayatan lebih besar, laparoskopi memungkinkan dokter melihat bagian dalam tubuh melalui kamera khusus. Dokter kemudian menggerakkan instrumen bedah untuk melakukan tindakan sesuai kebutuhan.
Dalam uji coba UC San Diego, robot humanoid digunakan untuk memanipulasi instrumen bedah standar. Sistem kamera membantu memberikan gambaran kondisi area operasi kepada operator.
Penelitian tersebut menguji dua konfigurasi kerja. Pada prosedur pertama, robot humanoid bekerja bersama seorang dokter bedah manusia yang bertindak sebagai asisten. Pada prosedur kedua, dua robot humanoid bekerja berdampingan untuk menjalankan tugas dalam operasi.
Hasilnya, kedua prosedur pengangkatan kantong empedu berhasil dilakukan dalam uji praklinis tersebut.
Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa robot humanoid serbaguna memiliki potensi untuk menjalankan gerakan yang dibutuhkan dalam operasi laparoskopi. Meski demikian, keberhasilan pada hewan belum berarti teknologi tersebut siap digunakan untuk mengoperasi manusia.
Bukan Robot yang Beroperasi Secara Mandiri
Salah satu hal yang perlu dipahami dari penelitian ini adalah peran manusia dalam mengendalikan robot.
Meskipun robot humanoid terlihat melakukan pekerjaan dokter bedah, sistem yang diuji belum sepenuhnya bekerja secara otonom. Gerakan robot dikendalikan dari jarak jauh oleh dokter bedah manusia menggunakan sistem teleoperasi.
Dokter tetap memegang kendali terhadap tindakan yang dilakukan selama prosedur berlangsung. Robot menjadi perpanjangan kemampuan fisik operator untuk menggerakkan instrumen bedah di dalam tubuh hewan percobaan.
Perbedaan ini sangat penting karena operasi merupakan kegiatan medis yang membutuhkan ketelitian, pertimbangan klinis, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang terus berubah.
Robot tidak cukup hanya mampu menggerakkan instrumen. Sistem juga harus mampu merespons kondisi jaringan tubuh, mengenali risiko, serta memastikan setiap tindakan dilakukan dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi.
Karena itu, penelitian ini lebih tepat disebut sebagai pembuktian awal kemampuan robot humanoid dalam membantu prosedur bedah, bukan bukti bahwa robot sudah dapat menggantikan dokter bedah.
Mengapa Robot Humanoid Dipilih untuk Operasi?
Selama ini, teknologi robotika telah banyak digunakan dalam dunia kedokteran. Salah satu contoh yang dikenal luas adalah sistem bedah robotik yang memungkinkan dokter melakukan operasi dengan bantuan instrumen yang dikendalikan dari konsol.
Namun, robot bedah khusus biasanya memiliki desain, perangkat, dan kebutuhan infrastruktur tersendiri.
Robot humanoid menawarkan pendekatan berbeda. Bentuknya menyerupai manusia sehingga secara teori dapat beradaptasi dengan lingkungan yang sudah dibuat untuk tenaga medis.
Rumah sakit memiliki berbagai peralatan, meja, instrumen, dan fasilitas yang dirancang agar dapat digunakan oleh manusia. Robot humanoid berpotensi memanfaatkan lingkungan tersebut tanpa harus selalu menggunakan rancangan perangkat yang sepenuhnya berbeda.
Selain itu, pengembangan robot serbaguna berpotensi membuka peluang pemanfaatan teknologi yang lebih luas. Satu platform robot dapat dikembangkan untuk berbagai tugas, termasuk membantu pekerjaan di fasilitas kesehatan.
Meski begitu, kemampuan beradaptasi tidak otomatis menjadikan robot humanoid lebih unggul dibandingkan robot bedah khusus. Keduanya memiliki tantangan teknis dan kebutuhan pengembangan yang berbeda.
Robot bedah khusus telah dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan prosedur medis. Sementara robot humanoid masih perlu membuktikan bahwa bentuk dan sistem geraknya mampu memenuhi standar ketelitian serta keselamatan yang diperlukan dalam operasi.
Tantangan Ketelitian dan Keamanan Operasi Robot
Operasi bedah merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Kesalahan kecil dalam menggerakkan instrumen dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau komplikasi.
Karena itu, robot humanoid yang digunakan dalam prosedur medis harus mampu menjalankan gerakan dengan presisi tinggi.
Salah satu tantangan utama adalah koordinasi antara gerakan robot dan instrumen bedah. Robot harus mampu mengikuti perintah operator secara konsisten, termasuk ketika melakukan gerakan kecil di area operasi yang memiliki ruang terbatas.
Tantangan berikutnya adalah keterbatasan sudut pandang kamera. Dokter yang mengendalikan robot membutuhkan tampilan visual yang jelas agar dapat memahami posisi instrumen dan kondisi jaringan.
Selain itu, sistem harus memiliki respons yang stabil. Keterlambatan komunikasi antara konsol kendali dan robot dapat memengaruhi ketepatan gerakan. Dalam operasi, keterlambatan sekecil apa pun perlu diperhitungkan.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian utama. Sistem robot harus mampu bekerja dengan prosedur pengamanan yang ketat, terutama ketika berinteraksi dengan jaringan tubuh dan peralatan medis.
Penelitian UC San Diego menjadi langkah awal untuk mengevaluasi berbagai kemampuan tersebut. Para peneliti tidak hanya menguji operasi pada hewan, tetapi juga melakukan pengujian di laboratorium untuk menilai kemampuan teknis dan kinerja sistem.
Apakah Robot Humanoid Bisa Menggantikan Dokter Bedah?
Keberhasilan robot humanoid dalam uji coba operasi tentu memunculkan pertanyaan: apakah suatu saat dokter bedah akan digantikan oleh robot?
Untuk saat ini, jawabannya masih jauh dari kemungkinan tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature merupakan studi kelayakan awal. Tujuannya adalah menilai apakah teknologi humanoid yang awalnya dirancang untuk penggunaan umum dapat diadaptasi untuk menjalankan tugas bedah.
Robot masih membutuhkan operator manusia yang memiliki keahlian medis. Dokter tetap bertanggung jawab mengendalikan prosedur dan menentukan tindakan yang harus dilakukan.
Dalam praktik kedokteran, operasi bukan sekadar aktivitas memotong atau mengangkat organ. Dokter harus melakukan pemeriksaan, menentukan diagnosis, memilih metode operasi, mempertimbangkan kondisi pasien, dan menangani kemungkinan komplikasi.
Kemampuan tersebut membutuhkan pengetahuan medis dan pertimbangan klinis yang tidak bisa disamakan dengan kemampuan mekanis robot.
Oleh karena itu, pemanfaatan robot humanoid dalam dunia medis untuk saat ini lebih realistis dipandang sebagai pengembangan teknologi pendukung tenaga kesehatan.
Apabila terus dikembangkan dan terbukti aman, teknologi tersebut berpotensi membantu dokter menjalankan prosedur tertentu, termasuk di lokasi yang memiliki keterbatasan fasilitas medis.
Peluang Robot Bedah untuk Rumah Sakit di Masa Depan
Salah satu potensi yang menarik dari teknologi teleoperasi adalah kemungkinan dokter mengendalikan perangkat dari lokasi berbeda.
Dalam skenario masa depan, sistem robotik dapat membuka peluang bagi tenaga medis untuk membantu prosedur tertentu tanpa harus selalu berada tepat di samping pasien.
Namun, penerapan seperti ini membutuhkan infrastruktur yang memadai. Koneksi komunikasi harus stabil, sistem kendali harus memiliki tingkat keamanan tinggi, dan fasilitas kesehatan harus mampu memenuhi standar keselamatan operasi.
Selain itu, teknologi robot bedah harus melewati berbagai tahapan pengujian sebelum dapat digunakan pada manusia. Pengujian harus mencakup keandalan perangkat, keselamatan pasien, kemampuan sistem menghadapi kondisi tidak terduga, serta efektivitas prosedur.
Regulasi perangkat medis juga menjadi faktor penting. Setiap teknologi yang digunakan untuk tindakan medis harus memenuhi ketentuan dan mendapatkan persetujuan dari otoritas terkait di negara tempat teknologi tersebut digunakan.
Dengan demikian, keberhasilan operasi pada babi hidup belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa robot humanoid sudah siap masuk ke ruang operasi rumah sakit sebagai pengganti dokter.
China Semakin Diperhitungkan dalam Industri Robotika
Penggunaan Unitree G1 dalam penelitian ini juga menunjukkan bagaimana produk robotika buatan China mulai mendapat perhatian dalam pengembangan teknologi global.
Unitree Robotics dikenal sebagai perusahaan yang mengembangkan robot berkaki empat dan robot humanoid. Produk seperti Unitree G1 memperlihatkan perkembangan kemampuan mekanis, pengendalian gerakan, dan interaksi robot dengan lingkungan.
Meski penelitian operasi dilakukan oleh tim UC San Diego di Amerika Serikat, penggunaan perangkat buatan China memperlihatkan bahwa ekosistem robotika internasional semakin terhubung.
Pengembangan teknologi tidak lagi hanya bergantung pada satu negara atau satu perusahaan. Perangkat keras dapat berasal dari satu negara, sementara sistem kendali, penelitian, dan pengujian dikembangkan oleh tim dari negara lain.
Kolaborasi lintas bidang seperti ini menjadi penting karena robotika medis membutuhkan keahlian dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik mesin, kecerdasan buatan, ilmu komputer, hingga kedokteran.
Ke depan, perkembangan robot humanoid kemungkinan akan semakin banyak diuji untuk berbagai pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan interaksi fisik.
Masa Depan Robot Humanoid di Dunia Kedokteran
Keberhasilan robot humanoid Unitree G1 dalam uji operasi pengangkatan kantong empedu pada dua babi hidup menjadi pencapaian penting bagi penelitian robotika medis.
Namun, perjalanan menuju penggunaan robot humanoid dalam operasi manusia masih panjang. Para peneliti perlu meningkatkan ketepatan gerakan, stabilitas sistem kendali, kemampuan visual, serta standar keselamatan.
Penelitian lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui bagaimana robot dapat bekerja secara konsisten dalam berbagai jenis prosedur bedah.
Teknologi ini membuka kemungkinan baru dalam pengembangan sistem operasi jarak jauh dan pemanfaatan robot serbaguna di lingkungan rumah sakit. Akan tetapi, penerapannya harus tetap mengutamakan keselamatan pasien dan pengawasan tenaga medis profesional.
Dengan kata lain, robot humanoid belum menggantikan dokter bedah. Namun, keberhasilan uji coba di UC San Diego menunjukkan bahwa robot yang awalnya dirancang untuk berbagai pekerjaan kini mulai memasuki salah satu bidang paling rumit, yaitu dunia operasi medis.
Jika teknologi tersebut terus berkembang dan berhasil melewati tahapan pengujian klinis serta regulasi, robot humanoid berpotensi menjadi salah satu perangkat pendukung penting dalam dunia kedokteran di masa depan.







