INDONESIA—LINTASNUSA.COM—KILAS INFO PEMINGPIN HEBAT—Oleh: Aming Soedrajat
Langkah strategis yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) selaras dengan konsep ekonomi Islam seperti yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz, khalifah kedelapan dari empat belas khalifah yang memimpin Bani Umayyah.
Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dianggap paling sukses sepanjang kekhalifahan. Bahkan, sampai mendapatkan gelar Khalifah Rasyid yang ke lima karena pemerintahannya sesuai dengan sistem khulafaur rasyidin.
Dimasa kepemimpinan Umar, rakyat menjadi semakin sejahtera karena pajak semakin ringan, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi. Bahkan, karena sejahteranya masyarakat dibawah kebijakannya, Amil zakat kesulitan untuk mencari mustahik zakat. Kepemimpinananya melahirkan kesejahteraan dan kesadarannya masyarakatnya.
Masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz berlangsung sebentar, hanya dua tahun setengah. Meski dalam waktu singkat, namun Umar bin Abdul Aziz telah menjadi pemimpin yang mampu menyejahterakan rakyat.
Pemerintah dan rakyat sama-sama saling percaya, para jabatan strategis diisi oleh orang-orang yang punya integritas dan reputasi. Upah yang dibayar negara untuk mereka pun terbilang ringan, karena gajih penjabat setara dengan gajih buruh.
Kegiatan untuk surat menyurat pun dipangkas seefiktif mungkin agar tidak menjadi beban Baitul mal (kas negara). Bahkan Umar pernah berkata, ‘pertajam pena, perkecil tulisan. Pastikan langsung ketujuan dan tidak bertele-tele’ tujuannya untuk penghematan anggaran.
Sementara, konsep Ekonomi Ideologi yang dilakukan oleh Kang Dedi Mulyadi memiliki kesamaan dengan yang dilakukan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yakni konsep ekonomi berdikari.
Ekonomi berdikari tidak pernah dimaksudkan agar bangsa dan negara anti segala sesuatu yang “berbau”asing atau dari luar. Berdikari bukan berarti anti modal asing, bukan berarti anti ahli-ahli asing, bukan berarti anti ilmu dan teknologi dari “luar”.
Berdikari yang dimaksudkan Bung Karno adalah sikap nasionalisme yang berwawasan luas dan maju dalam penyelenggaraan ekonomi masyarakat Indonesia.
Ekonomi ini berlandaskan pada kemampuan seseorang untuk mengolah dan mengelola potensi dan sumber daya alam yang ada di wilayah. Merubah “tukang menjadi tuan” di tanah airnya. Masyarkat memiliki kebanggan disetiap profesinya, mampu mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
Gagasan Ekonomi Jawa Barat Istimewa
Gagasan ekonomi yang dilakukan oleh Kang Dedi lebih memperkuat ekonomi kemasyarakatan (ekonomi rakyat). Kebijakan itu bisa dilihat dari gagasan yang lebih mendorong masyarkat lebih produktif. Termasuk kebijakan yang sedang ramai diperbincangkan, penghapusan tunggakan dan denda pajak kendaraan bermotor.
Dikutif dari data Jawa Barat, pendapatan pajak meningkat sebesar Rp5,5 miliar, dari sebelumnya Rp19 miliar menjadi Rp25 miliar. Kenaikan ini berasal dari pembayaran pajak 50.300 kendaraan bermotor dalam sehari setelah kebijakan tersebut diterapkan.
Kebijakan tersebut, memiliki dampak positif bagi pendapatan daerah dari pajak kendaraan. Tidak ada yang dirugikan, negara diuntungkan karena masyarkat bayar pajak, dan meringankan masyarakat yang menunggak pajak.
Penggunaan anggaran negara yang lebih efektif dilakukan oleh Kang Dedi. Kegiatan yang tidak memberikan manfaat pada masyarakat di pindahkan pada kegiatan yang lebih bermanfaat.
Gagasan lainnya yang dilakukan oleh Kang Dedi adalah pengalihan parsel dari sahabat, kolega, atau pengusaha yang sedang riuh mendekatinya.
Ada pesan yang sangat halus ingin disampaikan oleh Kang Dedi soal pengalihan parsel tersebut diberikan kepada masyarkat yang lebih membutuhkan. Selain menumbuhkan empati dan membantu ekonomi warga, pesan pentingnya adalah Kang Dedi merupakan pemimpin yang menolak gratifikasi dan menentang tindak korupsi.
Baginya, kesejahteraan rakyat jauh lebih prioritas dibandingkan apapun. Gratifikasi dan korupsi merupakan tindakan merugikan masyarakat. Sebelumnya juga Kang Dedi telah mendidik bawahannya untuk tidak meminta dan menerima THR ke pengusaha.
Hal lainnya yang menarik dari langkah Kang Dedi yakni merubah tukang menjadi tuan ditanah airnya sendiri. Mendidik tangan diatas dari pada tangan dibawah kepada masyarakatnya.
Kebiasaan Kang Dedi membantu masyakarat bukanlah barang baru, sudah dilakukan sejak menjabat sebagai anggota DPRD di Purwakarta. Memberikan modal bantuan berupa uang atau ternak, tujuannya agar masyarkat bisa mandiri. Menentukan nasibnya, sendiri dari hasil kerja kerasnya, singkatnya menjadi ‘budak angon’ (penggembala). Masyarakat yang mandiri tentu akan berdampak positif untuk daerah dan negara.
Sementara infrastruktur jalan, jembantan, penataan sungai, penataan ekosistem yang dilakukan hari ini tujuannya untuk mendukung aktivitas perekonomian masyarakat. Kemudahan, keamanan dan keselamatan sedang diperjuangkan oleh Kang Dedi agar aktivitas ekonomi tidak harus menimbulkan kerusakan.
Baca Juga Artikel : Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta pemerintah pusat untuk tidak lagi menaikkan Cukai Hasil Tembakau (CHT)
Peran Strategis Birokrasi
Tidak ada kesuksesan tanpa adanya dukungan dari para pejabat teknis untuk mempercepat kebijakan pemimpinnya. Integritas, kompetensi, kecerdasan dan kemampuan menterjemahkan visi menjadi hal yang harus dimiliki oleh para pejabat birokrasi.
Integritas bukan sekedar jargon, tapi sikap yang harus diterapkan dalam membantu menjalankan visi strategis pimpinannya.
Hati-hati birokrat. Informasi ini yang ingin saya sampaikan. Oknum birokrat yang orientasinya hanya mencari uang dengan jabatan dan perbuatan lain yang mengesampingkan nilai moral, itu akan menjadi catatan khusus.
Ingat, sepintar apapun bawahan, pemimpin jauh lebih pintar. Mata dan telinga pemimpin jauh lebih banyak dan lebih kuat. Jangan mengotori sistem yang sedang dibangun oleh Pemimpin (Gubernur).
Bagaimana pun, apa yang dilakukan oleh Kang Dedi sebagai pemimpin, memastikan negara dan pelayanan negara sampai kepada rakyat. Membangun kepercayaan bahwa negara hadir untuk melayani rakyatnya, pemimpin hadir untuk melindungi rakyatnya.
“Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat sedangkan pengkhianatan paling keji adalah pengkhianatan pemimpin,” Ali bin Abi Thalib. khalifah keempat
Gambar: Istimewa













