Tragis! Tak Mampu Beli Buku dan Pulpen, Siswa SD di NTT Akhiri Hidup

Berita75 Dilihat

Jakarta, Lintasnusa.com – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyoroti serius kasus tragis yang menimpa seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri. Peristiwa memilukan ini diduga dipicu faktor kemiskinan setelah korban tidak mampu membeli buku dan pulpen untuk sekolah.

Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan bahwa kasus tersebut menjadi atensi Kementerian Sosial. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan sosial terhadap keluarga tidak mampu agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

“Ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, memperkuat data, dan memastikan tidak ada masyarakat yang luput dari pendataan,” ujar Gus Ipul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Gus Ipul menekankan bahwa penguatan dan pemutakhiran data sosial merupakan kunci agar intervensi negara tepat sasaran, khususnya bagi keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan sosial.

“Ini hal yang sangat penting. Kembali kepada data, bagaimana data ini kita kelola sebaik mungkin agar negara bisa menjangkau seluruh keluarga yang memang memerlukan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan,” tuturnya.

Sebelumnya, YBS yang merupakan siswa kelas IV SD ditemukan meninggal dunia pada Kamis siang (29/1/2026). Korban ditemukan tergantung menggunakan seutas tali di dahan pohon cengkih, tak jauh dari sebuah pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Saksi mata, Gregorius Kodo, mengungkapkan bahwa kondisi keluarga korban sangat memprihatinkan. Korban memilih tinggal bersama neneknya karena keterbatasan ekonomi dan minimnya perhatian orang tua. Saat kejadian, sang nenek diketahui sedang berada di rumah tetangga.

Menurut keterangan warga, ayah korban telah meninggal dunia ketika YBS masih dalam kandungan. Ibunya harus menanggung hidup lima orang anak dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan.

Sebelum mengakhiri hidupnya, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen sekolah. Namun, permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Dalam olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang ditujukan kepada sang ibu. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Ngada dan ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Berikut isi surat korban yang telah diterjemahkan:

“Surat buat Mama. Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi (meninggal). Jangan menangis ya Mama. Saya pergi tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama.”

Di bagian akhir surat, terdapat gambar dengan emoji menangis yang digambar oleh korban.

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E. Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, tulisan tangan dalam surat dinyatakan identik dengan tulisan korban di buku sekolahnya.

“Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” ujar Benediktus.

Kasus ini menambah daftar panjang persoalan kemiskinan ekstrem yang berdampak langsung pada keselamatan anak, sekaligus menjadi alarm keras bagi negara untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan harapan hanya karena keterbatasan ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *